Indonesia Culture Shock II

Setelah kemarin saya posting sebagian mengenai Indonesia Culture Shock yang saya alami ketika liburan pulang ke Indonesia, kali ini saya akan melanjutkan culture shock lain yang saya alami ketika berada di Indonesia.

Meski selama di Indonesia seperti yang saya utarakan di tulisan Indonesia Culture Shock I, bahwa saya akan lebih prefer taksi or something yang ga wasting time, tetapi saya juga menjajal angkutan umum yang betul-betul merakyat dan murah meriah loh… Saya pun naik bis yang berharga hanya 2 ribu rupiah saja jarak jauh maupun dekat. Di sinilah saya akan mencoba mengutarakan opini saya untuk membuka mata para pembaca semuanya bahwa kita bisa menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.

Lanjut ke cerita di naik angkutan umum yang murah meriah… Selama naik angkutan umum tersebut awalnya saya biasa saja dengan orang-orang sekitar. Sampai saya melihat 2 orang wanita yang saya tafsir masih berusia belia dan tidak lebih dari 25 tahun yang masing-masing membawa seorang anak yang masih kecil. Buat saya pribadi hal itu biasa saja awalnya, sampai terjadi perbincangan diantara mereka yang kemudian saya tafsir mereka berdua adalah para pengemis di jalanan. Saya yang berada persis disamping mereka pun bisa dengan jelas mendengar percakapannya. Percakapan diantara mereka kurang lebih seperti ini…

Ini anak sumpah ya bikin gue kesel banget”, kata pengemis A

Lah kenapa emangnya?” tanya pengemis B

Iya nih daritadi kagak bisa diem… bawel melulu… pengin gue sumpel aja deh mulut nih anak biar diem” jawabpengemis A

Lah lu cekokin aje pake biskuit biar diem tuh bocah” kata pengemis B mengompori

Udeh… daritadi udah gue jejelin biskuit masih aja rewel… pengin gue jedotin deh palanye biar mampus” jawab pengemis A

Itulah selentingan percakapan yang saya dengar ketika kedua pengemis tersebut berbicara. Pengemis jalanan di Indonesia memang banyak dan memang banyak pula pengemis yang menyewa anak kecil untuk membuat hati orang yang melihatnya menjadi trenyuh untuk memberikan seperak atau dua perak uang untuk mereka. Tapi yang saya tidak terima dari perlakuan mereka para pengemis jalanan yang menyewa anak kecil adalah “even lu sudah make tuh anak kecil untuk bantuin lu ngemis minimal lu perlakukan sedikit manusiawi lah anak itu

Jujur disini saya geram sekali melihat 2 orang wanita yang menggunakan anak kecil untuk mereka mengemis. Jujur saya merasa tidak suka dengan perlakuan mereka terhadap anak kecil sewaan mereka tersebut. Mereka masih anak kecil bahkan masih seorang balita yang sangat-sangat tidak layak untuk dipekerjakan dengan tidak patut seperti itu. Mereka masih anak-anak dan mereka adalah generasi penerus bangsa yang seharusnya dididik dan diajari hal-hal yang positif.  Dan somehow saya juga ga habis pikir dengan orang tuanya yang tega menyewakan anak mereka untuk digunakan mengemis oleh 2 wanita tersebut.

Tulisan saya ini mungkin tidak akan mengubah perilaku mereka karena 99,99 % mereka tidak akan mengakses blog saya atau bahkan membacanya sekalipun. Tetapi saya ingin mengubah mindset kalian para pembaca sekalian bahwa c’mon kita harus move on…

Mungkin kalian yang berada di Indonesia saat ini berada di zona nyaman dimana sudah terbiasa dengan Indonesia yang seperti ini adanya. Tapi buat saya pribadi… NOTHING!!! INDONESIA HARUS BERUBAH. Karena saya pernah merasakan sendiri Indonesia yang menjadi tanah air saya ditertawakan oleh bangsa dan negara lain. Saya merasakan sendiri betapa nyesek, malu dan sedihnya negara kita sendiri ditertawakan. Tapi mau bagaimana lagi karena Indonesia memang begitu adanya. Dan saya tidak menampik hal-hal yang ditertawakan tersebut. Maka dari itu saya selalu berusaha memajukan Indonesia lewat hal-hal yang saya lakukan di Jepang saat ini, sebagai bukti kepada mereka bahwa meskipun Indonesia negara yang dipandang sebelah mata, Indonesia masih memiliki SDM yang berkualitas dan salah satunya adalah kalian. Ya kalian para pembaca. Tentunya para pembaca ga mau kan negara kita menjadi negara yang seperti ini terus. Kita harus bangkit dan kalian semua para pembaca bisa mengubahnya…

Mengapa saya berkata demikian?

Saya terinspirasi untuk mengubah mindset para pembaca blog saya karena saya terinspirasi oleh seorang seleb di twitter yang tak perlu saya sebutkan namanya. Awalnya saya tidak begitu mengenalnya, yang saya tau dia hanyalah seorang yang cukup eksis di dunia online dan saya cukup respek dan cukup kagum kepadanya. Sampai pada suatu saat saya berjumpa dengannya minggu lalu ketika saya menghabiskan liburan di Indonesia. Perjumpaan saat itu akhirnya berujung pada cerita mengenai sosok siapa sebenarnya dia. Menurut saya pribadi dia adalah orang yang hebat karena mampu menjadi founder kegiatan sosial di twitter. Dan kegiatan tersebut bukan hanya omongan belaka, melainkan juga direalisasikan di kehidupan nyata dan mendapat sponsor dari perusahaan-perusahaaan besar di Indonesia. Sampai akhirnya dirinya cerita bahwa ia sebenarnya hanya orang biasa yang hanya lulus SMA.

Spontan saya langsung shock dan kaget ketika mendengar dirinya hanyalah seorang lulusan SMA. Hanya seorang lulusan SMA tetapi bisa membuat hal-hal yang menurut saya adalah sesuatu yang luar biasa dan sekarang bahkan sekarang menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan swasta. Sesuatu yang amazing dan great menurut saya. Mendengar sedikit ceritanya jujur I’m very proud with that’s my friend.

Dari ceritanya, itu menjadikan sebuah bukti bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang. Saya bukan bermaksud mengajak para pembaca tidak melanjutkan sekolah dan menghentikan mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Melainkan bagi para pembaca yang memiliki keterbatasan dalam hal biaya misalnya. Tak perlu berkecil hati karena seorang biasa masih bisa menjadi luar biasa jika memiliki semangat, kemauan yang kuat, usaha, tidak pantang menyerah serta memiliki mimpi-mimpi yang luar biasa untuk menjadi sesuatu yang lebih baik.

Untuk kalian semua para pembaca yang mungkin memiliki keterbatasan biaya dalam mengemban pendidikan, atau memiliki kemampuan yang pas-pasan seperti saya. Saya ingin mengutarakan kepada para pembaca semuanya bahwa…

Kamu tak harus mengemban pendidikan hingga paling tinggi…

Kamu tak perlu harus menjadi orang paling pandai untuk memajukan negeri…

Cukup kau perbuat sesuatu yang berarti dengan sepenuh hati…

Karena sekecil apapun hal baik yang kau lakukan untuk negeri

Akan mengangkat Indonesia menjadi lebih bergengsi….

Janganlah segala sesuatunya dianggap “Ah itu sudah biasa… Ah Indonesia memang begitu…” Kalau terus-terusan seperti itu kita akan terus-terusan menjadi negara biasa yang hanya dipandang sebelah mata bahkan terus menerus ditertawakan oleh negeri tetangga. Berbuatlah sesuatu yang tidak biasa bahkan luar biasa. Niscaya Indonesia tercinta akan menjadi negara yang jaya. AMIN… MERDEKA….  (o尸’▽’)o尸

So apa yang akan kamu perbuat untuk Indonesia?

**This post dedicated to make Indonesian better especially in 67th independent days.

About these ads

17 thoughts on “Indonesia Culture Shock II

  1. Wah…. sudah separah itu kah cara para pengemis dalam mencari uang…

    serba salah jadinya kita iba malah dimanfaatkan..

    Setuju dengan apa yang harud kita lakukan demi bangsa ini walau sekecil apapun jangan lagi hanya jadi penonton atau cuman berkomentar, coba dulu, action lakukan baru bicara… Merdeka….

  2. cara mengubahnya? mungkin aku sekarang mengusahakan mengusung tema tema positif dalam.setiap fikiran maupun tulisan utk indonesia.. yaa.. kalau berfikir negatif terus (apalagi tanpa melakukan sesuatu) ya omdo seh namanya..

    dan karena aku pegawai negeri.. jadi aku ingin menghapuskan (dalam diri sendiri dan org sekitar tentunya) apa itu yg meminta jatah.. atau pungli. atau kegiatan teknis yg lainnya.. jujur.. itu sulit loh.. tapi kalau niat pasti bisa deh yak :)

    • Yah… semua start dari hal2 kecil…
      Dan to be honest kalau kamu start dr hal kecil utk menghapus pungli itu…. two thumbs up buat kamu… Its great dan kamu sdh melakukan hal yg benar

  3. Van, aku udah baca tulisanmu yang sebelumnya juga. Jadi, komennya di sini aja :)

    Itulah JAKARTA Van…gila banget tapi nyata.

    Gemes dengan pengemis dan kelakuan mereka yang sulit ditakar secara logika dan perasaan tapi mereka ada secara nyata dan tapi jangan putus asa. Banyak orang baik di Jakarta yang mau bersedia memperbaiki kota ini :)

  4. bener bgt tuh wkt ak dijepang dl ceritanya pengen nyeritain betapa ‘wah”nya indonesia spy dia mau ke indonesia,eh tiba”menciut rasanya muka ini ketika dia bilang “mm tp di indonesia kurang aman ya,,soalnya ad org jepang yg kena tipu diBali”mmm mmg kita hrs berbuat demi indonesia tercinta sekecil apapun itu

    • Iya… so far orang Jepang yg nanya ke aku ttg Indonesia mau ga mau aku juga jawab jujur kalau Indonesia tidak aman….
      But aku yakin bahwa orang baik masih banyak di Indonesia :)

  5. KOnteks kalimat ini: Ah itu sudah biasa… Ah Indonesia memang begitu…memang seakan sudah jadi paradigma umum, jd generalisasi masa bodoh dan take secure place utk diri sendiri. Asal gak ganggu orang lain..asal gak merugikan orang…no matter what happen..hidup diri sendiri teramankan posisinya..

    Dan saya selalu salut tapi sekligus malu pada mereka yg secara akademik gak sampai ke jenjang kuliah tp mampu berkontribusi berkali lipat utk lingkungan dan societynya..

    Btw, performance Indonesia memang bnyk ironi-nya atau culture shock-nya. Bagaimana penampakan orang-orang Indonesia sbg kalangan jetset tapi sekaligus kenyataan banyakanya kesenjangan sosial dimana-mana.

    • Iya sih terkadang gitu ya… mindsetnya udah terpikir bahwa “yang penting gue aman” dan kadang to be honest aku juga seperti itu kalau di Indonesia.
      Setuju… mereka yang kurang secara akademik tapi mampu berkontribusi banyak… Saya acungkan two thumbs up buat mereka2…

      Statement terakhir… mengenai kesenjangan sosial. Seandainya kesenjangan sosial di Indonesia tidak ada alias bisa diatasi, apakah menjamin bahwa kriminalitas di Indonesia akan hilang?

  6. teman perempuan saya pernah loh marah sama salah seorang pengemis yang membawa bayi masih merah, kata dia kalau gak sanggup ngerawat anak biar dia adopsi aja anaknya biar dapet kehidupan yang leih baik.. si pengemis ketakutan dan langsung kabur tunggang langgang..

  7. Konnichiwa! Saya beru nemu posting culture shock 1 & 2 nya. Thanks for sharing. Saya termasuk org yg cukup sering ngerasa miris dgn bangsa kita. Urusan2 yg sangat mendasar aja lah seperti antri, buang sampah, bahkan korupsi pun dilakukan di kalangan bawah (bukan cuma pejabat lho) tanpa pelaku merasa bersalah…rasanya sering putus asa dgn bangsa ini. Setuju, kata teman yg juga lama di Jepang, org Jepang punya pepatah yg artinya kira2: “be kind to other people, tapi keraslah pada diri sendiri.” dalam konteks ini pada bangsa sendiri. Bukan berarti kita sok2an, tapi justru concern karena kita cinta bangsa sendiri. Bener sekali, kalo yg kita cintai berbuat hal yg gak sepantasnya, kita kan ‘patah hati’? Seperti juga anak yg mengecewakan ortunya, ortunya pasti hatinya hancur dan sedih sekali.

    Saat ini saya bahkan menghadapi seorang teman dari Jpn yg sedang culture shock. Dan sebagian besar kasus memang membuat saya sedih dgn bangsa ini… :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s