Curahan Hati Seorang Penulis

Well… mohon maaf buat para pembaca setia sekalian karena blog ini sempat vakum selama 1 bulan. Mengingat akan kesibukan skripsi, persiapan ke Jepang, dan berbagai hal lain. Tadinya tulisan berjudul “Curahan Hati Seorang Penulis” ini ingin saya tulis sebelum saya tiba di Jepang. Namun apa daya tulisan ini baru sempat saya tulis sekarang. Mungkin tidak ada yang spesial dari tulisan ini, namun saya ingin sedikit berbagi perasaan yang saya miliki dan semoga lewat tulisan ini kita bisa saling memotivasi. 😀 Oke langsung saja saya bercerita ya….

Perjalanan memperoleh beasiswa ke Jepang sungguh tidaklah mudah. Jujur jika saya ingin melihat kapasitas diri, saya tidak memiliki kemampuan dan kapabilitas yang cukup. Saya lemah dalam coding, programming, logika matematika, algoritma dan berbagai hal lain yang menjadi dasar dan pokok bagi seseorang yang berkecimpung di dunia teknik informatika. Cuma 1 modal yang saya miliki untuk memperoleh beasiswa, yaitu “keberuntungan”.

Setelah memperoleh beasiswa pun, semuanya tidak berjalan dengan mulus begitu saja. Untuk memperoleh gelar sarjana (S1) perjuangan berat harus dilakukan. Mulai dari revisi yang begitu banyak, hingga kenyataan bahwa saya harus menjalani sidang skripsi ulang. Jujur, mengetahui bahwa saya harus menjalani sidang skripsi ulang membuat saya bertanya-tanya dan membuat saya sangat down. “Apakah saya layak lulus?!” , “Apakah skripsi saya memenuhi kriteria?!”, atau bahkan “Dosen meluluskan saya semata-mata supaya beasiswanya tidak hangus?!” pertanyaan-pertanyaan itulah yang terkadang masih muncul dan terbersit di benak saya sampai sekarang. Bahkan saya sempat menanyakan hal ini kepada salah seorang dosen penguji ketika saya selesai menjalani sidang skripsi yang pertama. Beliau pun menguatkan saya bahwa skripsi saya layak, tetapi masih banyak yang harus direvisi dan salah satu revisi yang cukup berat adalah revisi program. Sebenarnya, kalau boleh jujur, jika memang tidak layak lulus dan skripsi saya harus extend sampai semester berikutnya saya rasa tidak masalah, lalu biarkan saja beasiswanya hangus! Walau mungkin pasti ada rasa kecewa dan malu yang sangat besar apabila beasiswanya hangus hanya karena tidak lulus sarjana.

Dukungan dari orang tua, sahabat dan orang-orang terdekat membuat saya dimampukan. Selain itu, saya mencoba menguatkan diri dan menjalani berbagai revisi yang diminta. Hingga sidang ulang skripsi pun harus saya jalani kurang dari 1 minggu sebelum keberangkatan ke Jepang untuk  menerima beasiswa. Usai menjalani sidang yang kedua masih banyak pikiran-pikiran negatif yang saya miliki, namun dosen penguji yang lain menguatkan saya dengan berkata bahwa “Tidak ada kata gagal, yang ada hanya kesuksesan yang tertunda”, “Tetap semangat dan terus berjuang, kamu pasti bisa dan akan sukses”

Saya pun mencoba berbesar hati dan menjalani semuanya. Namun terkadang pikiran-pikiran bahwa “Layakkah seorang biasa menerima beasiswa?!” “Mampukah saya menjalani riset, padahal saya bukan cumlaude?! IP saja pas-pasan!” Namun semangat, dukungan, doa dan berbagai motivasi dari orang tua, sahabat, dan orang-orang terdekat membuat saya dimampukan hingga sekarang akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Jepang untuk kedua kalinya.

Sesampainya di Jepang kembali saya dihantui oleh berbagai pikiran negatif. Saya hanya bingung, heran, dan bertanya-tanya mengapa ekspetasi orang lain begitu tinggi terhadap saya. Mulai dari petinggi rektorat yang berharap saya bisa mengajar sambil meneruskan s3 di universitas tempat saya memperoleh sarjana, hingga orang Jepang yang berpikiran dan memiliki mimpi bahwa saya harus menjadi Profesor pertama dari Indonesia di universitas di Jepang tempat saya kuliah sekarang. Mampukah saya kembali menjadi pionir?! Agaknya semua eskpetasi “WAH” yang mereka miliki seolah menjadi beban tersendiri bagi seorang mahasiswa yang pas-pasan saja seperti saya ini. Kini kerinduan akan motivasi dan dukungan dari orang tua, sahabat, dan orang-orang yang dekat dengan saya menjadi sesuatu yang sangat saya perlukan. Namun… keberadaan mereka sekarang terasa sangat jauh. Saya harus bisa survive sendiri di negeri orang. Saya sama sekali tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah percaya dan berharap banyak kepada saya, maka dari itu saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memberikan yang terbaik yang saya bisa.

Dunia ini adalah panggung sandiwara dimana kita memainkan peran kita masing-masing. Saya tidak ingin menjadi seorang aktor yang begitu saja dikoordinir oleh sutradara… Tapi saya ingin menjadi aktor yang penuh dengan totalitas menjalani peran yang saya pilih dan saya mainkan. Maka, saya tidak ingin masa depan saya ditentukan oleh orang-orang yang berekspetasi besar dan menginginkan saya menjadi ini dan itu. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri dengan saya yang seperti ini apa adanya. Saya akan menentukan masa depan saya sendiri. Jika mampu menjadi Profesor di Oxford mengapa tidak?! hehehe…. Namun sebenarnya bukan itu maksud saya, melainkan saya yang akan menentukan dimanakah saya merasa nyaman dan akan memberikan totalitas peran yang saya mainkan. Gagal atau berhasil semua saya serahkan pada yang Di-Atas, saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin.

Itulah beban yang saya rasakan, dan saya hanya ingin sedikit berbagi beban ini sebab saya mungkin memilih jalan yang mana saya cukup nekad memilih jalan ini. Semoga saya mampu memainkan peran saya dengan baik dan memuaskan para penonton sandiwara. 🙂

Advertisements

12 thoughts on “Curahan Hati Seorang Penulis

  1. “Agaknya semua eskpetasi “WAH” yang mereka miliki seolah menjadi beban tersendiri bagi seorang mahasiswa yang pas-pasan saja seperti saya ini. Kini kerinduan akan motivasi dan dukungan dari orang tua, sahabat, dan orang-orang yang dekat dengan saya menjadi sesuatu yang sangat saya perlukan.” —> gw ngerti banget bgn ini… hehehe…

    Sebenernya van, lw itu mampu, cuma kurang PD aja… dan lw pasti bisaaaa!!! Semangat !!!

  2. Pingback: Wisuda Yang Tertunda « Ivan Prakasa Personal Blogsite

  3. Pengalaman Anda sangat menginspirasi sekali, semakin membuat saya tertarik untuk ke Jepang. Hehehe. Salam kenal dan sukses ya 🙂

  4. hal yg sama seperti yg saya alami sekarang..ngga tau lagi ini apa yg terjadi saat sidang skripsi kedepan,tanpa saya sadari penelitian saya sama dengan penelitian orang.saya juga IT mas..padahal beasiswa saya sudah terakhir semester ini…

  5. salam kenal kak ivan,
    keren banget pemikirannya kak, saya suka kata-kata yang ini: “Saya tidak ingin menjadi seorang aktor yang begitu saja dikoordinir oleh sutradara… Tapi saya ingin menjadi aktor yang penuh dengan totalitas menjalani peran yang saya pilih dan saya mainkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s