Negeri Baru… Hidup Baru… Semangat Baru…

Oke… akhirnya setelah 2 minggu meninggalkan Indonesia, akhirnya kali ini saya menyempatkan diri untuk berbagi cerita kehidupan di Jepang. Mohon maaf sebelumnya buat para pembaca yang selalu menagih dan mungkin menanti posting saya tentang kehidupan baru yang saya jalani di Jepang. Jujur saja 1 minggu pertama adalah waktu yang sangat menyedihkan bagi mental saya pribadi. (no offense terhadap perasaan saya ya :D)

Perasaan sedih dan berat saya alami selama 1 minggu tiba di Jepang. Walau tahun lalu pernah tinggal di Jepang sebelumnya selama 4 bulan, namun perbedaan kunjungan dan tujuan benar-benar membuat saya drop.  Kalau dulu ada teman yang memiliki tujuan sama sekarang saya harus sendiri. Kalau dulu saya tinggal di homestay family sekarang saya harus tinggal sendiri. Kalau dulu komunikasi menggunakan Bahasa Inggris sekarang saya dituntut sudah fasih berbahasa Jepang. Kalau dulu makanan dan  semuanya lengkap, sekarang saya harus nyicil membeli semua kebutuhan pribadi pelan-pelan.

Semuanya serba berbeda, selain itu ekspetasi saya belajar bahasa Jepang dulu baru memulai riset pun diluar dugaan. Kenyataannya saya harus pelan-pelan memulai riset s2 dan belajar bahasa Jepang dalam waktu yang bersamaan. Jujur saja bahasa Jepang saya masih kacau balau, karena di Indonesia sama sekali tidak mengasah kembali kemampuan berbahasa Jepang. Yahh… semua karena tidak terbersit sedikit pun pikiran bisa kembali ke Jepang. Les bahasa Jepang pun saya jalani kilat yaitu 2 minggu sebelum berangkat ke Jepang. Dari kursus itu yang saya dapat pun hanya recall kemampuan berbahasa Jepang dan sedikit belajar beberapa kosakata baru. Well… well… akhirnya selama kurang lebih 1 minggu di Jepang saya hanya diam, menyendiri, urung dan tidak bersemangat. Hingga akhirnya, menginjak minggu kedua di Jepang segala dukungan, dorongan, dan semangat teman-teman di Indonesia memampukan saya untuk bangkit. Dan satu pesan dari sahabat saya yang memampukan saya untuk bangkit adalah sebagai berikut “Banyak yang ingin kuliah di luar negeri tetapi ga memiliki kesempatan yang sama seperti saya. Jadi harus disyukuri dan harus berikan yang terbaik karena saya sudah memperoleh kesempatan yang langka ini” Yak itulah kira-kira motivasi yang diberikan oleh seorang sahabat yang biasa dipanggil dengan inisial “M”. Awalnya saya sempat menyanggah bahwa semua orang belum ngerasain aja beratnya kuliah di luar negeri, tapi setelah dipikir-pikir lagi, saya pun akhirnya terpacu dengan kata-kata darinya. (Makasih ya “M” :D)

Oke itu saja sedikit curhat perasaan saya, sekarang sudah 2 minggu di Jepang. Saya pun mulai menjalaninya dengan semangat baru (^.^) dan salah satu semangat saya adalah dengan mulai berbagi dan menulis lagi di blog. Walau semua berat tapi segala sesuatu yang indah tidak didapat dengan mudah, semoga perjuangan ini membawa masa depan cerah untuk saya. (^.^)

AMIN

SAATNYA BERCERITA…..

Setibanya di Jepang, tepatnya tanggal 26 September 2011, waktu mengurus imigrasi di bandara saya bertemu dengan peraih beasiswa Monbukagakusho lain. Sempat mengobrol sejenak dan mengurus imigrasi bersama-sama. Bahkan sempat akrab dengan salah seorang dari penerima beasiswa lain yang merupakan seorang wanita sebut saja “X” dan kami berjalan beriringan mengurus imigrasi.   Agak berbeda dari tahun lalu dimana saya dengan mudah menemukan orang yang menjemput saya, kali ini saya sampai ke information center untuk memanggil nama orang yang menjemput saya tersebut. Bahkan “X” pun sampai ikut menunggu dan menemani saya hingga saya berhasil menemukan penjemput dari kampus saya. Sampai-sampai si “X” tersebut dikira istri saya oleh penjemput kampus… uwaaaa >.< masih umur 22 rasanya masih terlalu muda untuk menikah deh. 😛 Akhirnya setelah menemukan orang yang menjemput, saya pun harus berpisah dengan si “X” tanpa sempat bertukar email atau apapun >.<

Oke hari pertama satisfy deh… tinggal di hotel untuk sementara dan makan siang bersama dengan adik kelas yang mengikuti kerja magang alias pertukaran pelajar tahun ini, yang sudah lebih dulu ada di Jepang. Hari pertama cukup menyenangkan.

Hari kedua mulai mengurus apartemen tempat saya tinggal untuk 2 tahun kedepan dan mengurus berbagai keperluan imigrasi. Mulai urus kontrak apartemen, mengurus imigrasi sebagai pendatang yang tinggal dalam waktu lama di Jepang, hingga membeli peralatan dan kebutuhan di apartemen seperti kasur, dan peralatan lain. Dan yang lebih berat lagi adalah pendamping yang membantu mengurus semua itu tidak bisa menyetir mobil, sehingga peralatan yang dibeli seperti kasur, peralatan makan, hingga alat bersih-bersih semua dibawa sambil berjalan dan naik bus. >.<

Hari ketiga hingga seterusnya selama 1 minggu setibanya di Jepang digunakan untuk mengurus berbagai keperluan umum. Mulai dari membuka akun bank, cek kesehatan di dokter, persiapan dan jadwal kelas, hingga mengetahui kenyataan bahwa harus menjalani pelajaran bahasa Jepang dan riset bersama-sama. Bahkan belum-belum sudah diberikan riset paper s2 untuk dipelajari. >.< yak itulah yang membuat saya drop. Hehehehe….

Menginjak minggu kedua saya pun sudah mulai bisa beradaptasi. Saya mulai mengikuti kelas belajar bahasa Jepang, mulai membaca paper dan riset s2 dan menjalani aktivitas lain. Semua berat dan saya harus bekerja keras untuk semua itu. Namun di minggu kedua ini saya masih sejenak menenangkan diri setelah bisa beradaptasi. Saya masih belum mau terlalu serius karena saya baru saja memiliki spirit baru di minggu kedua. Saya hanya tidak ingin spirit itu hilang begitu saja ketika saya langsung serius dan bekerja ekstra keras untuk semua itu.

Oke di minggu ketiga ini dan semenjak saya menulis dan publish tulisan ini, saya akan memulai serius untuk belajar dan bekerja keras untuk meraih cita-cita saya.  Negeri baru… Maka saya akan memulai untuk menjadi warga negara yang baru. Hidup baru… Maka saya akan memulai untuk membuat image dan citra diri yang baru. Semangat baru… Maka saya akan memulai untuk memotivasi diri sendiri untuk bisa survive dan menyelesaikan studi s2 dengan “APIK” (^.^)

Negeri Baru… Hidup Baru… Semangat Baru… Mari memulai untuk membuat image dan citra diri lebih baik dan membawa nama baik negeri sendiri dengan menunjukkan kemampuan yang luar biasa yang ada di setiap diri kita masing-masing. (^.^)

Besok saya akan posting tentang apartemen saya yang ada di Jepang beserta fotonya. Ikuti terus ya ceritanya (^.^)

Advertisements

17 thoughts on “Negeri Baru… Hidup Baru… Semangat Baru…

  1. semngt mas bro!! enth knp stiap sya bca artkl ttng khdpan di jepng hati sya brgtar mta sy berkca* sbml brkta”kpn ak ksn”

  2. semangat mas bro, anda lebih beruntung dripada saya, umur 22 th sudah bisa lanjut S2 d univ bergengsi d negeri sakura, dan memiliki teman2 yg mau memberi motivasi, sedangkan saya umur 21 lulus D3 harus bekerja di tambang ngumpulin duit biar cepet punya modal untuk lanjut S1, skrg umur 23 th masih jlan 1 smester mnempuh S1 di PTS dlm negeri, dan saya harus ngorbanin meninggalkan kerjaan saya itu, beban mental buat saya masalah biaya n ngelepasin kerjaan yg menjadi cita2, namun saya syukuri n trus berusaha meyakinkan diri saya sendiri utk trus berusaha
    , semngat mas bro

  3. Pengalaman pertama memang berat ya 🙂 Benar-benar nostalgia mengingat masa-masa di awal dahulu. Tapi kalau lagi down baca2 artikel awal-awal hidup di Jepang pasti bisa menambah semangat ya.

  4. konichiwa,
    wah,bisa share tentang gimana cara mendapatkan beasiswa s2 di jepang?
    watashi wa junana sai desu. di sekolah ada pelajaran bhs jepang, om juga pernah kerja di jepang, dan aku juga tertarik kesana hehe

  5. Senpaaaaiiiii… watashi wa Almira desu. Saya dan temen saya berencana mengambil beasiswa monbukagakusho S1. Bolehkah saya minta saran? Saran apa aja deh. Walaupun postingan ini udah 4 tahun yang lalu TvT

    Cerita senpai menarik! Saya juga pengen duh..

    terakhir,
    senpaaaaiii notice meee!

  6. konnichiwa kak ivan. perkenalkan saya Aci. kak saya seneng banget bisa nemu blog kakak ini. karna saya satu dari ratusan (mungkin ribuan?) mahasiswa S1 Indonesia yang pengen ngelanjutin S2 ke jepang. saya sempat exchange ke tokyo metropolitan university di minami-osawa tapi cuma 10 hari dan kerasanya emang kaya liburan aja gitu kak, jadi aku ga ngerasain dilema2 kehidupan di jepang seperti yg kakak alami.. tapi walau ada plus minus kehidupan di jepang aku tetep kekeuh pengen S2 di jepang kaaaak. Kak ivan beasiswanya monbu ya? kakak punya akun FB kah? atau ada line kak? hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s