Never Judge People Easily

20130718-004250.jpg

Gambar diambil dari Path Teman

Apa yang ada di benak kalian ketika melihat gambar diatas? Bagaimana perasaan kalian? Sedih? Marah? Atau malah bahagia?

Well… Jujur saja bahwa belakangan ini saya sedikit kesal dengan masyarakat Indonesia yang suka ngejudge, mengintimidasi, dan mengucilkan orang-orang di sekitarnya. Maaf saja kalo saya mengeneralisasikan ini, tapi memang kenyataannya masih sangat banyak bisa kita temui dimana-mana. Tak tanggung-tanggung, bahkan wakil rakyat pun yang katanya membela kepentingan rakyat juga bisa menjadi bagian dari pihak yang mengintimidasi. Seperti tertulis dalam artikel berikut ini misalnya, tertulis bahwa katanya pemerintah sebaiknya memberikan sanksi bagi mereka yang mengidap HIV/AIDS.

Oh God… Mengapa begitu mudahnya masyarakat kita men-judge seseorang tanpa alasan dan tanpa melihat sisi lain suatu masalah sih?!

Bukan hanya para pengidap HIV/AIDS saja yang mendapat perlakuan dikucilkan dari masyarakat, mereka-mereka yang merupakan bekas narapidana, mantan preman, anak yang mengidap autisme dan masih banyak contoh lain yang juga bisa mendapat perlakuan tidak enak dimata masyarakat.

Mereka semua yang memiliki kekurangan, mengidap suatu penyakit, atau pernah berbuat hal yang tidak baik dimasa lalu bukan seharusnya dikucilkan. Melainkan mereka semua harus kita rangkul, kita arahkan dan tentu saja kita dampingi dan kita bimbing.

Ada seorang sahabat yang mengidap HIV positif pernah bercerita. Dirinya merasa sedih karena pandangan orang yang berbeda terhadap dirinya. Dirinya dianggap sebagai seorang gay dikarenakan sudah berumur namun belum juga menikah. Lalu ketika saya tanya mengapa sampai saat ini dirinya belum menikah? Selain dikarenakan belum menemukan pasangan yang tepat, dalam dirinya juga ada kecemasan HIV tersebut akan tertular kepada anak dan istrinya.

Pengidap HIV masih memungkinkan untuk memiliki anak yang lahir dengan kondisi sehat. Namun coba saya tanya kepada para pembaca sekalian, ada berapa orang diantara kalian yang (normal) mau menikah dengan seorang yang mengidap HIV positif? Dan kembali ke persoalan judgement, masihkah kita akan menjudge orang lain sebagai gay/lesbi jika alasannya demikian?

Kita semua pernah melakukan dosa dan kesalahan. Jangan pernah kita men-judge, mengintimidasi, atau bahkan mengucilkan orang lain hanya karena kesalahan yang pernah mereka lakukan. Ketika orang hendak bertobat, berbuat baik, dan berusaha memperbaiki kesalahannya, sudah sepatutnya kita mendukung dan menerima mereka kembali. Jangan hanya karena mengidap HIV misalnya, seseorang kemudian dijauhi. Sering tentunya kita mendengar makian atau cibiran

“Eh, jangan dekat-dekat dengan dia… Nanti ketularan HIV loh”

Well… HIV tidak begitu saja menular kepada orang lain, apalagi hanya karena sekedar bersentuhan atau berjabat tangan. Kita harus paham hal itu terlebih dahulu sebelum men-judge para pengidap HIV atau yang biasa disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Tidak semua ODHA bisa menerima perlakuan dan cibiran seperti itu. Jika ODHA masih bisa menerima perlakuan seperti itu, mungkin kita boleh sedikit lega. Tetapi bagaimana kalau tidak?! Bisa saja mereka kemudian dendam dan bermaksud menularkan HIV nya kepada kita yang telah mengucilkan mereka.

Lalu apa yang terjadi? Siapa yang akan dipersalahkan?

Maka dari itu mari kita ubah pola pikir dan cara pandang kita masing-masing.

“Never judge people easily”

Mari kita belajar untuk menerima segala kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing pribadi. Mari melihat segala sesuatu bukan hanya dari kacamata pikiran kita melainkan juga dari kacamata pikiran orang lain. Semoga tulisan ini bisa sedikit membuka mata kita agar kita bisa lebih bertoleransi, belajar untuk tidak mengintimidasi, mengucilkan atau ngejudge orang secara sembarangan.

So… Will you judge people?

Advertisements

23 thoughts on “Never Judge People Easily

  1. Memang sangat disayangkan ketika seseorang dengan mudahnya ngejudge orang lain.
    Dulu saya sempat ngobrol juga dengan salah seorang ODHA.
    Menurutnya, kadang orang selalu berfikir negatif akan kelakuannya sampai2 mengidap HIV/AIDS.
    Padahal kan belum tentu, bisa jadi akibat tranfusi darah, dll.
    Ya itulah manusia, kadang mulutnya lebih suka bereaksi duluan ketimbang berfikir dengan akal sehat.
    Mulutmu harimaumu 😀

  2. selama dunia masih ada, selama itu pula manusia akan saling berburuk sangka. tugas kita adalah senantiasa mengoreksi. termasuk salah satunya postingan blog ini 😀

    btw kok gagal mau komentar pake ID ‘indobrad’ ya. WordPress ngambek lagi kayaknya >.<

    • iya…. selama masih ada hitam pasti ada putih… dan selama ada matahari pasti ada bintang dan bulan… smoga kita bisa saling mengoreksi satu sama lain….

      hahaha mgkn karna tgh malam… 😛

  3. sedih van ngeliat komiknya! juga berita tentang HIV itu…

    emang sih gak boleh ngejudge orang ya. tapi kadang kita manusia suka refleks aja gitu ya. mesti sering2 ngingetin diri sendiri…

    • iya sih mas Arman… aku jg ga menampik kalo aku juga kadang suka ngejudge orang. Kalo refleks sih masih oke dan masih bisa di toleransi sih ya, asal kemudian jangan sampe kita mengintimidasi dan mengucilkan mereka aja nantinya…

  4. Gambarnya…bikin terharu…
    Ttg ODA…iya Van, masih banyak yang berpikiran sempit kayak gitu yang ngucilin ODA padahal kita kan gak tau, mereka dapat darimana virus tersebut. Lah wong, Ibu rumah tangga baik hati aja bisa kena KALAU (misalnya) sang Suami jajan di luar. Rite? Tapi justifikasi kita ke ibu ODA itu udah kayak…duh gitu dech…
    Makanya kampanye ttg HIV AIDS memang masih diperlukan sampai sekarang. Bukan cuma ttg menghindari supaya tidak terkena HIV AIDS tapi juga kampanye untuk mengubah mindset dan behaviour masyarakat agar gak takut lagi dengan ODA.

  5. Itu semacam kebiasaan baru yang mulai merambah ke anak-anak di Negeri ini. Ntah siapa yang salah, lingkungan ataupun didikan orang tua <– bukan termasuk meng-intimidasi kan. hehe

  6. dan masih banyak orang yang merasa sudah peduli. tapi mencemooh, mengejek, atau ngejudge orang lain yang dia anggap bercandaan padahal tanpa dia sadiri hal tersebut menyakiti perasaan orang tersebut.
    sekali lagi.. banyak.

    • iya fan…. kadang meski kita sudah peduli ada perilaku kita yg tidak kita sadari telah melukai orang. maka dari itu sbaiknya kita saling mengingatkan satu sama lain… 😀

  7. diriku sebisa mungkin ga ngejudge orang dengan mudah..

    seorang teman pernah bilang, “ada kalanya lebih baik menjadi apatis namun tidak menghakimi daripada memberikan perhatian lalu menghakimi…”

    • Cukup setuju mas Billy… Tapi in some case ada yg ga setuju… hehehe…
      Untuk hal-hal yg masih bisa diluruskan atau masih bisa diubah biasanya aku coba memberi perhatian. Tapi utk hal2 yg udah jadi pondasi pikiran orang baru deh aku akan bersikap apatis. meski kadang nyinyir juga sih hehehe 😛

  8. Manusia mas…
    Begitulah keadaannya.
    Ditambah dengan penyakit hati yang sedang jadi wabah di negari kita. Menghinggapi siapa saja gak pandang ras dan agama. 😐

    komentar saya mungkin juga ada porsi ‘judging’nya ya.. 🙂

    • Iya sih mas… tapi budaya juga berpengaruh… Misalnya saja di Jepang, mereka menghargai satu sama lain dan ga mendiskriminasikan mereka2 yg punya kekurangan…
      Jadi pola pikir masyarakat Indonesia kadang jg jadi andil dlm berbagai persoalan…

      hehehe iya, ada sedikit porsi judging nya… 😛

  9. Setuju mas, ingat selalu pepatah mulutmu harimaumu…
    Mas boleh saya copy pic-nya ya, pic-nya menyentuh sekali
    Trims mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s