Tag Archive | refleksi

2012 Life Reflection

Menjelang tutup tahun di penghujung hari berakhirnya tahun 2012 ini, I will write about my own life for my reflection and my resolution for face next year. So… You read or not, that’s your choice coz I just ordinary people who have ‘nothing’…  But I know if I have ‘something’… 🙂

Pertama adalah memaknai bahwa tahun 2012 adalah tahun yang menurut cerita orang-orang yang entah sumbernya darimana dikatakan sebagai hari kiamat dunia. Well… jujur aja gue sempet percaya loh dengan hal tersebut. Apalagi setelah melihat film “2012”, membayangkan bahwa bagaimana hidup gue yah jika berada dalam film tersebut?! Am I surviving? Yang jelas if must sacrifice myself, I will sacrifice myself for people who can create rebirth for the world. Because rebirth in the world must be better. Seolah membuka lembaran baru bahwa masa depan harus tercipta lebih baik dan jauh dari tangan-tangan dan pikiran-pikiran orang yang picik, dengki serta memiliki kebencian.

Well… banyak cerita suka dan duka yang dialami tahun 2012. Yang jelas satu impian saya belum terwujud tahun ini. Berharap bahwa tahun ini kolaborasi tulisan yang saya sumbang bisa dibukukan. Namun kenyataannya bahwa penerbitan buku tersebut menjadi sesuatu yang hilang bak ditelan bumi yang entah bagaimana dan tidak memiliki kejelasan. Yah maybe next year… Mungkin Tuhan punya rencana lain yang mana buku pertama yang saya terbitkan bukan buku kolaborasi melainkan buku yang ditulis tunggal oleh saya sendiri… 🙂 Yah… next year?! I hope so… 🙂

Tahun 2012 ini bisa dibilang Continue reading

Advertisements

Bukik Bertanya : From Nothing Become Something

31 Januari 2012… Yak sebuah hari tepat dihari ulang tahun saya. Kali ini saya akan menulis sebuah posting dalam rangka berkolaborasi dengan seorang rekan yang sangat saya kagumi yaitu pak @bukik. Kenapa saya akhirnya memilih tanggal ini sebagai tanggal untuk saya menerbitkan tulisan ini?! Awalnya… saya ingin menjadi yang pertama menerbitkan tulisan kolaborasi. Namun karena kesibukan program “Dear Friends…” yang saya buat di website, akhirnya… terpaksa diundur. Hingga akhirnya… tanggal ini saya pilih sebagai kado ulang tahun bagi diri saya sendiri. Kado bagi diri saya sendiri untuk merefleksi kehidupan saya selama ini. Berharap… tulisan ini bisa menginspirasi teman-teman dan pembaca setia semuanya. Bahkan jika akhirnya posting ini terpilih untuk dibukukan oleh Pak @bukik, maka itu akan menjadi kado terindah yang pernah saya miliki. Karena impian saya untuk menulis sebuah buku selama ini, akhirnya bisa menjadi kenyataan. Walau nantinya hanya mengisi beberapa halaman di buku yang diterbitkan oleh Pak @bukik,namun itu sudah merupakan kebanggaan tersendiri karena orang lain sudah bisa menghargai tulisan saya. Selain itu… impian menerbitkan buku sendiri juga tentunya akan selangkah lebih dekat.

Saya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang kini sedang menempuh pendidikan jenjang strata 2 di Jepang. Ivan Prakasa… itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tua saya. Ada makna dibalik nama tersebut, dimana orang tua terinspirasi dari seorang petenis bernama Ivan Lendl yang merupakan salah satu petenis paling dominan pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an. Sedangkan Prakasa sendiri, orang tua berharap bahwa saya kelak menjadi orang yang kuat dan perkasa. Walau terkadang nama belakang tersebut sering menjadi bahan ledekan teman-teman saya, tapi saya bangga memiliki nama tersebut.

“Ivan”… itulah nama panggilan saya, yang dalam bahasa Ibrani bisa diartikan sebagai “anugrah Tuhan yang paling indah”. Namun seiring dengan perjalanan hidup yang saya lalui, ada berbagai julukan diberikan oleh orang-orang yang dekat dengan saya. Diantaranya adalah julukan sebagai si  “Gendut” yang terus melekat pada diri saya hingga sekarang. Entah sejak umur berapa, bila dirumah saya tidak dipanggil dengan sebutan nama melainkan dengan sebutan “Gendut”. Bahkan jika dibandingkan, mungkin orang tua saya lebih banyak memanggil saya dengan panggilan ‘ndut’ tersebut dibandingkan dengan nama panggilan saya sendiri. Ya memang… waktu kecil saya memang sangat gendut dan pendek. Meski saya kini tidak lagi gendut, namun tetap saja panggilan ‘ndut’ diberikan oleh seluruh anggota keluarga kepada saya.

Dalam kehidupan keluargaContinue reading

Refleksi Hidup Gue (Titik Balik Kehidupan Saya)

Gue berharap cerita gue ini bisa menginspirasi para pembaca sekalian.

Well…. Tak terasa waktu 4 tahun sudah berlalu semenjak gue menginjak bangku kuliah. Sekarang perjalanan di bangku kuliah hampir berakhir, setelah dinyatakan “lulus bersyarat” dan harus mengubah hampir sebagian besar isi skripsi yang gue punya. Mungkin orang pernah bilang masa SMA adalah masa-masa paling indah. Tidak begitu dengan gue, masa SMA gue dilalui dengan biasa saja. Justru masa-masa paling berkesan adalah masa-masa gue SMP dan masa-masa gue kuliah ini. Tulisan ini sengaja gue buat untuk sekedar merefleksi hidup gue semasa kuliah dan sekaligus merupakan titik balik kehidupan gue belajar untuk menjadi lebih dewasa.

Oke, singkat cerita apa sih yang membuat gue mengambil jurusan komputer alias Teknik Informatika selama kuliah ? Dulu awalnya sih punya cita-cita tinggi pengin kuliah di luar negri, dan jurusan yang gue incar adalah jurusan kedokteran. Setelah berkonsultasi ke berbagai konsultan pendidikan, dikatakan bahwa jika mengambil jurusan kedokteran di luar negri tidak memungkinkan untuk kembali ke Indonesia. Atau secara tidak langsung mungkin bisa dikatakan jikapun balik ke Indonesia, ilmunya mungkin ga kepake (obat-obatan di luar negri dan di Indonesia berbeda). Yang namanya goblok atau gimana, waktu itu gue akhirnya percaya saja (sampe sekarang bahkan masih bingung itu bener ga sih? Pembaca kalau ada yang tau bisa di share dong :D)

Pemilihan jurusan komputer akhirnya menjadi pilihan gue yang nekat ngotot kuliah di luar negeri. Jurusan itupun yang milih adalah para konsultan pendidikan, yang notabene cerita kalau jurusan komputer adalah jurusan paling favorit. Tetapi akhirnya impian keluar negeri kandas karena terbentur biaya dan gagal memperoleh beasiswa.

Akhirnya pilihan gue jatuh pada kampus gue sekarang yang waktu itu masuk ke situ dengan 2 alasan : Continue reading